Search
Archives

Cerita Inspirasi Diri Sendiri

Nama   : Tiffany Nisa Arviyani

NRP    : I14100094

Laskar : 28

            Saat saya duduk di kelas X SMA, sebagai siswa baru tentunya masih beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Saya juga mulai memilih ekstrakulikuler yang sesuai dengan minat saya. Dan saya pun memilih mengikuti teater. Awalnya saya hanya ikut-ikutan teman memilih ekstrakulikuler ini. Tapi seiring berjalannya waktu, saya enjoy dan senang mengikutinya. Pada awal pertemuan, kami belajar olah vokal dan olah tubuh. Kemudian pertemuan selanjutnya kami mulai dikenalkan teknik-teknik bermain drama. Klub teater yang saya ikuti bernama Teater “Studio One”. Setiap tahun teater kami selalu mengadakan pentas produksi di sekolah. Tahun ini giliran tampil adalah angkatan saya. Pelatih pun melakukan casting untuk pemilihan pemain. Ternyata saya mendapat peran sebagai istri. Tema dari pentas kali ini adalah “Korban” karya Putu Wijaya. Saya terus berlatih agar bisa tampil maksimal dalam pentas itu. Saat tiba hari H, saya semakin deg-degan. Setelah tampil perasaan saya pun lega. Pentas produksi tersebut meraih sukses karena penontonnya banyak sekali.

            Saat kelas XI SMA, saya dan pemain lain dari pentas produksi diajukan untuk mengikuti lomba “Teater 76”. Kami pun giat berlatih mempersiapkan penampilan kami agar bisa maksimal. Hari H pun tiba, kami tampil sebaik-baiknya. Tapi, kami tahu bahwa tema yang kami tampilkan yaitu “Korban”, ceritanya tidak realistis. Sedangkan dalam lomba itu persyaratannya adalah cerita yang realistis. Saat pengumuman, kami tidak menjadi juara tapi pemeran utama kami masuk nominasi pemeran utama terbaik. Kami cukup bangga dengan hal tersebut.

            Dari teater, saya belajar banyak hal. Saya beradaptasi lagi dengan teman-teman dan lingkungan baru. Saya menjadi lebih percaya diri dan berani tampil di depan umum.

Cerita Inspirasi Orang Lain

Nama   : Tiffany Nisa Arviyani

NRP    : I14100094

Laskar : 28

            Ini adalah kisah teman SMA ku. Sebut saja namanya Diah. Aku mengenalnya sejak kelas X SMA saat kita satu kelas, tapi sebenarnya aku juga satu SMP dengannya. Dilihat dari penampilannya dia adalah anak yang tomboy. Wajahnya selalu ceria, jarang sekali dia terlihat murung. Dia juga aktif mengikuti berbagai kegiatan di sekolah, seperti basket dan OSIS. Yang aku kagumi dari dia yaitu rasa percaya dirinya yang tinggi. Namun dibalik semua itu, ternyata dia adalah anak yang orang tuanya broken home. Saat ini dia tinggal bersama bibinya. Dia memilih tinggal bersama bibinya karena ayah dan ibunya masing-masing sudah memiliki keluarga baru. Diah selalu membantu pekerjaan rumah bibinya. Hal tersebut tidak menghalangi Diah untuk berprestasi. Dalam bidang akademik dia memang pas-pasan, tapi dia berprestasi di bidang non akademik. Dia bergabung dalam klub basket putri di sekolah. Setiap pertandingan basket, klubnya sering mendapat  juara. Dia tergolong anak yang mandiri. Untuk mengisi waktu luangnya, Diah biasa membantu kakak sepupunya mengajar les anak-anak SD. Menurutnya, hal itu membuatnya senang dan menjadi penghilang stress karena dekat dengan anak-anak. Bibinya termasuk keras dalam mendidiknya. Apabila ia tidak mengerjakan pekerjaan rumah, bibinya akan marah. Padahal sebelum pamannya meninggal, dia selalu dimanja pamannya. Walau begitu ia tetap sayang pada bibinya. Sampai saat ini dia masih bersilaturrahmi pada kedua orang tuanya.

            Ternyata masih ada orang yang tidak seberuntung kita. Kita yang memiliki keluarga yang utuh patut bersyukur. Diah yang orang tuanya broken home saja masih bisa ceria dan semangat menjalani kehidupan. Dia masih bisa berprestasi dengan keadaannya yang seperti itu.